Politikus Partai Ummat, Amien Rais, melempar sederet kritik ke pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Salah satunya soal hubungan dengan China.

Hal itu disampaikan Amien Rais melalui YouTube Channel Amien Rais Official yang diunggah pukul 20.00 WIB, Sabtu (13/3/2021). Dalam kesempatan itu, Amien menyebut banyak mafia berada di Indonesia.

"Saudara sekalian, saya pernah mengatakan bahwa Republik Indonesia hakikatnya sudah menjadi, maaf ini, republik mafia Indonesia. Hampir segala bidang kehidupan bangsa sudah dicengkeram oleh mafioso itu. Ada mafia beras, mafia daging, mafia gula, mafia pupuk, mafia terigu, mafia cabe, mafia bawang, mafia minyak, mafia obat-obatan, mafia gas, mafia pajak. Bahkan mafia olahraga, mafia skor. Nah bahkan yang paling berat dan berbahaya adalah mafia hukum," kata Amien Rais.


"Karena itulah, Pak SBY pernah mencoba memberantas mafia hukum, dengan diterbitkannya Keppres Nomor 37 Tahun 2009 tentang satgas pemberantasan mafia hukum," katanya.

Namun, kata dia, satgas pemberantasan mafia hukum itu dihilangkan di masa kepemimpinan Jokowi. Mantan Ketua MPR itu menyebut ada 'Mafia Taipan Cukong (MTC)' yang merasa senang atas dihilangkannya satgas tersebut.

"Satgas itu luar biasa. Jadi harapan kita semua. Tetapi 2 tahun kemudian innalillah, satgas yang awalnya mencorong bersinar itu dinyatakan bubar tidak perlu diteruskan. Tapi tentu, para bandit yang dikatakan Mahfud cukong itu, juga saya kira para bandit mafia taipan, cukong itu dengan bubarnya satgas tadi itu, tentu merasa riang gembira. Merasa bahagia, mengapa? Karena ternyata, kekuatan MTC, mafia taipan cukong itu, lebih besar dan lebih menentukan daripada kekuasaan negara. Di zaman Jokowi, keperkasaan MTC makin tak terbendung karena keakraban Jakarta-Beijing yang semakin kuat dan kokoh," katanya.

"Negara adalah yang paling tinggi kedaulatannya. Itu dari waktu ke waktu sudah kalah dengan pandangan yang lebih realistis, yang terjadi adalah sejak Bung Karno, diganti oleh Pak Harto, kemudian diteruskan Pak Habibie, kemudian Gus Dur, Mega, dan Yudhoyono 10 tahun dan sekarang ini oleh Pak Jokowi, maka kekuasaan negara itu memang sudah dikalahkan oleh multinational corporation, dan belakangan lebih populer dengan nama transnasional corporation," katanya.

Lebih lanjut, Amien kemudian mengatakan, di zaman Presiden Jokowi, kasus korupsi semakin menggurita. Menurutnya, Jokowi membiarkan kekayaan Indonesia dijarah oleh asing.

"Saya ingin menyampaikan juga, ini pendapat saya juga, (zaman) Pak Jokowi itu korupsi semakin menggurita, karena memang para pengelola kekuasaan itu menjalankan abuse of power, jadi mereka nampak sekali misalnya membiarkan perampokan, penjarahan kita punya sumber daya alam yang digotong ke luar negeri oleh aseng dan asing semena-mena, ya siang, ya malam, ya pagi, dan yang lebih parah lagi adalah karena hal-hal ini telah menunjukkan kemelaratan nasional," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Amien mengaku tak ingin apa-apa. Dia mengingatkan Jokowi untuk putar haluan. Dia meminta Jokowi mandiri dalam membangun bangsa Indonesia.

"Saya sudah tua, jadi saya nggak ingin jadi apa-apa. Saya ingin melihat negeri ini bagus. Pak jokowi kalau Anda memang mau legacy warisan yang bagus, tolong cepat putar haluan, mandiri, mandiri jangan tergantung pada cukong taipan. Kita ini negeri yang besar, kekayaan alam luar biasa kayanya, jadi kalau kita berdiri di atas kaki sendiri pelan-pelan, insyaallah kita akan jadi negara besar seperti yang kita inginkan," kata Amien.

Sebelum menutup pernyataannya, Amien menyinggung kebangkitan Partai Komunis di Indonesia. Menurutnya, Partai Komunis bisa bangkit dengan dukungan China.

"Bayangkan kalau partai komunisme bangkit lagi dengan dukungan RRC, kira-kira nanti ada sejarah berulang, di Uighur itu bagaimana dahsyatnya kebiadaban kepada rakyatnya sendiri hanya karena berbeda suku, berbeda agama," ucapnya.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menanggapi hal itu. Dia meminta Amien Rais tidak membuat narasi provokasi.

"Saya sudah dengar videonya. Saya koordinasikan dan itu ada sebut nama Pak Mahfud beberapa kali, materi ini kan bukan materi yang baru muncul, tapi kan ini masalah-masalah kebangsaan yang nanti pada periode Pak Jokowi ini memang menjadi konsentrasi, pelan-pelan untuk membangun kemandirian sebagai bangsa, sebagai satu national state, ada nasionalisme," kata Ngabalin saat dihubungi, Minggu (14/3/2021).

Ali mengatakan tidak mungkin Indonesia berdiri sendiri dalam membangun bangsa tanpa berkomunikasi dengan negara lain.

"Tapi kan tidak mungkin Indonesia itu membangun kekuatan negaranya tanpa berkomunikasi dengan negara mana saja di dunia, termasuk di dalamnya adalah China. Kecuali seperti Israel dan negara lainnya yang belum ada hubungan diplomatik," ucapnya.

"Karena itu tidak boleh ada hubungan narasi-narasi kebencian, tidak boleh ada narasi penghasutan, tidak boleh ada narasi-narasi yang dengan mudah orang membaca ada seperti orang dendam kesumat. Itu kan pilihan-pilihan kata yang sebetulnya gampang ditahu (dimengerti), bukan nalar rendah, Pak Amien itu kan tidak rendah nalarnya, tinggi tapi mungkin uzur dan memprovokasi umat," sambungnya. 

Ngabalin kemudian mempertanyakan Amien Rais tak menyampaikan hal tersebut kepada Jokowi pada Selasa (9/3) lalu. Karena itu, dia menganggap masih ada suatu hal yang mengganjal di hati Amien dan belum tersampaikan saat pertemuan itu.

"Kan baru kemarin ketemu presiden, nah watak dan karakter Pak Amien seperti ini, saya kan kenal Pak Amien itu artinya ada yang belum selesai dia dengan Pak Jokowi, belum ada yang selesai jumpa dengan Pak Jokowi kemarin. Kalau dia mau ngomong seperti ini, kenapa dia tidak ketemu ngomong dengan Presiden Jokowi kemarin? Kenapa ngomong di Channel YouTube-nya, kenapa di belakang-belakang, mau dibilang pengecut? Mau? Berhadapan lho dengan presiden, kenapa Anda nggak ngomong?" imbuh Ngabalin. (Detikcom

Komentar

Lebih baru Lebih lama