Puisi Penuh Makna Fahri Hamzah yang Diidolakan Putra Jokowi - Gopresiden
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Puisi Penuh Makna Fahri Hamzah yang Diidolakan Putra Jokowi

Ada yang menarik dari pertemuan Waketum Partai Gelora, Fahri Hamzah, dan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Pujian hingga puisi mewarnai pertemuan itu.
Pertemuan mereka berlangsung di rumah dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung, Sabtu (27/3/2021). Fahri Hamzah bertemu secara tertutup dengan putra Presiden Joko Widodo itu.

Usai pertemuan, Gibran ternyata memanggil sang adik yaitu Kaesang Pangarep. Gibran menyebut Kaesang sebagai fans Fahri Hamzah. Kaesang lalu mengungkap alasan dia mengidolakan mantan Wakil Ketua DPR itu.

"Saya suka cara-caranya beliau. Selalu kritis," kata Kaesang.

Tak hanya Kaesang, Gibran juga mengidolakan Fahri Hamzah. Kaesang dan Gibran tak pernah sakit hati kala Fahri Hamzah mengkritik ayah mereka.


"Lo.. kritis itu kan dibutuhkan. Jadi ya wajar. Saya lihat Pak Fahri bagus selama ini. Nggak pernah (jengkel) sama sekali," ujar dia.

"Justru ngefans. Nggak ada yang jengkel," kata Gibran menimpali.

"Kalau jengkel saya nggak mungkin di sini," kata Kaesang disambut tawa Fahri Hamzah.

Lalu, bagaimana respons Fahri Hamzah? Dia kemudian membuat puisi soal menitipkan Solo pada Gibran.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Dilihat detikcom, Minggu (28/3/2021), puisi itu diunggah di akun twitter milik Fahri. Dilampirkan juga foto-foto pertemuan di dalam ruangan hingga saat memberikan pernyataan kepada wartawan.

Puisi itu tidak berisi kritik terhadap pemerintah. Tapi, dukungan kepada putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang baru dilantik jadi Wali Kota Solo.

Berikut isi puisi Fahri tersebut:

Solo,
Tempat kita menitipkan sebagian kenangan,
Rintik hujan yang mencipta kerinduan antara kau dan aku.

Surakarta,
Jiwa jawa,
Dan mendung orang2 mencari jalan untuk saling meringankan beban, untuk saling berkasih sayang.

Aku titipkan kota ini kepadamu Gibran.
Selamat Bekerja!

Fahri Hamzah juga merespons soal Gibran dan Kaesang yang mengidolakan dirinya karena kritik yang kerap dilontarkan. Apa katanya?


Fahri menyebut pandangan Kaesang kepadanya bukan hal baru. "Dari awal, memang pernyataan Kaesang dan Gibran (Wali Kota Solo) nggak berubah," ucapnya saat dihubungi, Minggu (28/3/2021).

Menurut Fahri, sikap kritis terhadap pemerintah tak lepas dari tugasnya sebagai anggota legislatif. Politikus Partai Gelora itu menyebut legislatif harus bisa mengontrol kekuasaan eksekutif.

"Kita harus mendesak partai politik yang sudah ada untuk memperbaiki cara kerja mereka di legislatif dan eksekutif. Intinya, mereka harus menjadi dapur pemikiran, bukan alat kekuasaan. Karena kalau parpol kehilangan ide mengelola republik ini, nanti sisanya transaksi kekuasaan yang kasar," kata Fahri.

Namun saat ini, bagi Fahri, dirinya sudah berada di luar legislatif. Sikapnya pun bisa lebih luwes, berbeda dengan saat dia menjadi Wakil Ketua DPR dulu.

"Tugas mengawasi jalannya pemerintahan, pertama-tama kita titipkan kepada 575 anggota DPR dan 136 anggota DPD RI. Sebagai rakyat biasa kita memilih jalan rakyat. Ada masanya bertarung nanti 2024, tapi sekarang saya tidak bertugas. Apa hak saya bertingkah seperti anggota DPR?" katanya.

Fahri lalu mengungkap isi perbincangannya dengan Gibran yang berlangsung secara tertutup. Simak di halaman berikutnya.

Fahri Hamzah, mengaku mendukung Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Dukungan itu pulalah yang menjadi dasar Fahri membuat puisi dukungan tersebut.

"Apa pun, dia anak muda 33 tahun yang sudah jadi wali kota. Ya kita dukunglah. Bagi warga Solo, mungkin ini yang terbaik. Dan saya mendengar rencana-rencananya (saat bertemu)," ucap Fahri Hamzah, saat dihubungi, Minggu (28/3/2021).

Saat berbincang dengan Gibran di rumah dinas Wali Kota Solo, Sabtu (27/3), Fahri mendengar banyak niat dan rencana Gibran menata Solo. Namun, Fahri meminta Gibran mencontoh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menjadi Wali Kota Solo.

"Dia baru sebulan. Cukup banyak daftar keinginan. Tapi, saya bilang, Pak Jokowi dulu dikenal membangun infrastruktur fisik. Lalu ada semboyan 'Solo The Soul of Java.' Saya usulkan itu, fokus pada infrastruktur budaya dan pengetahuan," kata Fahri.

Mantan politikus PKS itu menyebut pertemuannya degan Gibran menjadi salah satu gerak Partai Gelora. Partai Gelora, disebut Fahri, akan berkolaborasi berskala besar.

"Partai Gelora hadir dalam transisi demokrasi Indonesia pasca 20 tahun reformasi. Biasanya kita gamang kembali. Makanya, Gelora mengajak kolaborasi besar karena kita nggak bisa kerja sendiri," katanya. (Detikcom) 


close